Pondok Pesantren Mahasiswa Jagad ‘Alimussirry adalah pondok pesantren modern berbasis Nahdhiyyin yang dihuni oleh mahasiswa. Pondok pesantren ini menyelenggarakan program S1 dan S2 Nonformal Konsentrasi Studi Islam Pendekatan Tasawuf. Pondok pesantren ini diharapkan menjadi sentral pendidikan ulama’ cendekiawan kekasih atau wali Allah SWT sesuai dengan profesi dan kompetensi masing-masing santri. Kurikulum yang digunakan merupakan perpaduan antara kurikulum pesantren, kurikulum di Perguruan Tinggi Islam, dan kurikulum di Perguruan Tinggi Umum, serta memadukannya dengan tasawuf modern. Pembelajaran di pondok pesantren ini diampu oleh Kyai, Ustadz, Dosen yang berpengalaman dan memiliki kualifikasi pendidikan S2/S3. Pondok pesantren ini terdiri atas pondok putra dan pondok putri.

Sejarah Berdirinya Ponpes JA

Pondok Pesantren Jagad ‘Alimussirry dirintis sejak masa muda Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M selaku pendiri pesantren. Beliau telah menjadi guru ngaji sejak masih dibangku SMA dan beliau telah memiliki murid kurang lebih 50 orang.  Pada tahun 2000, beliau mendapat pesan dari guru beliau yaitu Mbah KH. Abdullah Sajad. Mbah KH. Abdullah Sajad berpesan agar beliau terus melanjutkan perjuangan dakwahnya sebagai guru ngaji. Mbah KH. Abdullah Sajad juga mendapatkan amanah yang sama dari Mbah KH. Hamid Pasuruan. Oleh karena itu, pada tahun 2000 berkembanglah majelis taklim yang diberi nama ‘Alimussirry.

Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M berguru kepada seorang ulama yang bernama Abah Thoyyib Sumengko, Krian. Abah Thoyib berpesan kepada beliau agar mendirikan pesantren guna meneruskan perjuangan para ulama. Beliau juga berguru kepada Mbah Ahmad Fauzan (Kediri) yang konon berumur 450 tahun dan berwasiat untuk mendirikan pesantren. Pada suatu ketika, Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M bermimpi shalat jum’at di sebuah Masjid Jami’. Setelah khotbah Jum’at selesai, takmir Masjid Jami’ tersebut meminta kepada jama’ah semua untuk mendoakan Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M yang akan mendirikan pesantren agar berjalan lancar, namun beliau tidak pernah meminta doa atau menyampaikan bahwa akan mendirikan pesantren. Setelah shalat jum’at, beliau disalami oleh semua jamaah shalat jum’at dan mendoakan semoga pembangunan pesantren dapat berjalan lancar. Mimpi tersebut semakin memperkuat tekad beliau dalam mendirikan pesantren. Hal ini juga diperkuat dengan mimpi Ibu Muntalikah (Istri Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M). Istri beliau bermimpi bahwa tanah (tanah yang akan dibangun menjadi pesantren) akan dibeli oleh seseorang dan oleh si pembeli akan dibangun pesantren, tetapi Ibu Muntalikah berkata lebih baik tanah tersebut dibuat pesantren sendiri. Hal ini semakin memantapkan hati Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M untuk segera membangun pondok pesantren sebagai sarana dakwah.

Kota Surabaya adalah kota metropolitan. Pondok Pesantren Jagad Alimussirry didirikan atas dasar sikap prihatin Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M selaku pendiri pesantren terhadap kondisi generasi muda saat ini. Beliau merasa prihatin terhadap kondisi generasi muda yang berasal dari desa yang cenderung terpengaruh oleh budaya perkotaan seperti pergaulan bebas, club, atau budaya shopping di Mall. Para pemuda desa yang merantau ke kota Surabaya bertujuan untuk belajar atau bekerja. Mereka cenderung melupakan sikap dan prilaku baik yang telah terbentuk pada saat tinggal di desa. Mereka berubah mengikuti pergaulan di kota dan meninggalkan sifat yang telah ditanamkan oleh orang tuanya sejak kecil. Oleh karena itu didirikan Pondok Pesantren Jagad Alimussirry sebagai wadah membina, mempertahankan dan meningkatkan keimanan dan akhlak baik generasi muda.

Berdasarkan tekad dan keprihatinan tersebut sehingga pada tahun 2003 berdirilah Pondok Pesantren Jagad Alimussirry (PPJA). Pondok pesantren tersebut berada di Jetis Agraria (PPJA I) untuk santri putra dan putri. PPJA tersebut semakin berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat sekitar sehingga dibangunlah PPJA II yang berada di Jetis Kulon pada tahun 2005. Kini, pondok pesantren yang terdapat di Jetis Agraria (PPJA I) digunakan untuk santri putra dan PPJA II untuk santri putri. Mayoritas santri berasal dari kalangan mahasiswa yaitu berasal mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Erlangga (Unair), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Universitas Islam Sunan Giri, dan Institut Agama Islam Al-Khoziny, dan lain-lain. Hal ini yang mendasari penggunaan kurikulum yang disesuaikan dengan kurikulum Perguruan Tinggi.  Oleh karena itu, digunakanlah kurikulum yang memadukan antara kurikulum pesantren, kurikulum di Perguruan Tinggi Islam, dan kurikulum di Perguruan Tinggi Umum, serta tasawuf modern. Pada tahun 2015 dimulailah pembangunan pesantren yang  baru di Ketintang Timur PTT VB yang lebih luas dari kedua pesantren yang terdahulu (PPJA III).